Beberapa hari lagi Natal akan segera tiba. Bagaimana pengalaman saya semenjak merasakan hari-hari menjelang Natal di USA? Suasana Natal di USA sangat berbeda dengan di Indonesia. Bila hari Raya Idul Fitri tiba di Indonesia, jalanan berubah menjadi lengang, karena umumnya masyarakat melakukan mudik ke kampung halaman masing-masing.
Maka seperti itulah kira-kira suasana menjelang malam Natal dan saat Natal tiba di USA. Bukannya mereka mudik atau pulang kampung, tetapi hampir seluruh roda perdagangan berhenti menjelang malam Natal dan saat Natal tiba. Oleh karena pada umumnya masyarakat USA beragama Kristen, maka mereka mempersiapkan diri menghadiri misa Natal di gereja masing-masing, dan umumnya setelah itu mereka akan menikmati makan malam bersama keluarga di rumah masing-masing atau mempersiapkan diri menjelang Natal keesokan harinya yang biasanya mereka habiskan dengan acara keluarga, baik di rumah masing-masing ataupun di rumah sanak keluarga mereka.
Tujuh tahun yang silam di Indonesia, masih hangat dalam ingatan saya, kebaktian Natal di seluruh penjuru kota, di sana-sini diamankan oleh para Polisi. Rasanya memang aneh, pergi ke gereja merasa tidak aman. Bagaimana tidak, kalau di sana-sini polisi berkeliaran mengamati setiap gerak-gerik orang yang berkeliaran di sekitar gereja karena adanya isu bom. Saya pun tidak tahu, apakah suasana seperti ini masih tetap terlihat di kebaktian Natal tahun ini di kota Surabaya? Semoga tidak. Harapan saya tentunya Indonesia menjadi negara yang tenteram, aman, dan damai seperti suasana Natal yang pernah saya rasakan sewaktu saya masih anak-anak.
Lain halnya suasana tersebut di kota di mana saya tinggal di USA, tentunya tak tampak satu pun para pengaman berjaga-jaga menjelang dan selama kebaktian berlangsung karena tak adanya isu bom. Natal pun bagi tradisi masyarakat USA adalah waktu special untuk ‘memberi'. Sama halnya masyarakat muslim di Indonesia yang melakukan zakat fitrah menjelang Idul Fitri tiba. Sewaktu saya masih berada di Indonesia, hal memberi di hari Natal hanya dapat saya rasakan sewaktu menjadi murid di Sekolah Minggu. Guru Sekolah Minggu akan membagikan kado-kado Natal kepada murid-muridnya sewaktu merayakan Natal bersama.
Masih teringat pertama kali merayakan Natal di USA, hadiah-hadiah Natal berdatangan tidak hanya dari suami saja, melainkan juga berasal dari anggota keluarga dan rekan-rekan lainnya. Mereka pun memprioritaskan ‘memberi' kepada mereka yang berkekurangan, baik melalui gereja ataupun lingkungan sekitar dimana mereka tinggal, entah itu dalam bentuk volunteer (tenaga sukarelawan) atau menyumbangkan sesuatu, entah itu berupa makanan dan minuman, benda bekas yang masih baik kondisinya, atau bahkan benda yang masih baru. Umumnya berupa keperluan untuk musim dingin, mulai dari jaket, kaos tangan, selimut, dan sebagainya.
Semarak menjelang Natal di USA dapat dirasakan lebih sebulan sebelum Natal tiba. Hampir semua pusat-pusat perbelanjaan telah terpajang pohon-pohon Natal dan pernak-pernik untuk keperluan dekorasi Natal. Ada juga pusat grosir terbesar di dunia yang telah memulai menjual segala keperluan Natal sejak akhir bulan Oktober. Meskipun lebih awal, ternyata setelah saya perhatikan, banyak juga para konsumen yang membelinya. Bedanya mungkin kalau di Indonesia, tidak akan ada periode ‘on sale' skala besar-besaran.
Di USA sehari saja Natal berlalu, maka seluruh barang bernuansa Natal akan banting harga sebesar 25%. Harga ini akan jatuh terus dengan semakin meningkatnya nilai discount yang diberikan hingga mencapai 75% pada bulan-bulan berikutnya. Tentu saja, saya pun tidak melewatkan hal ini untuk membeli keperluan Natal dengan nilai turun hingga 75%. Umumnya barang-barang yang saya beli adalah ornament-ornament Natal yang sangat bagus dan menarik, serta dekorasi Natal lainnya untuk saya gunakan pada Natal berikutnya. Semarak Natal pun ternyata dapat dinikmati di setiap ruas jalan, hampir di setiap halaman rumah penduduk dihiasi dengan pernak-pernik lampu-lampu hias dengan bermacam-macam bentuk.
Saat pertama kali suami saya membawa saya berkeliling melewati rumah-rumah penduduk, tak habis-habisnya mata saya terbelalak melihat keindahan halaman rumah-rumah mereka yang tentunya tidak saya temukan suasana seperti ini di Indonesia. Kata suami saya, itu pun tidak sebanding dan seberapa bila saya melihat keindahaan dekorasi Natal di pusat-pusat kota, contohnya di New York atau yang tidak jauh-jauh dari tempat kami tinggal, yaitu di Longwood Garden. Saya pun mengiyakan saja, meskipun saya belum pernah melihatnya sendiri ke sana, hanya melalui gambar-gambar yang saya lihat, entah itu offline ataupun online. Memang saya akui betapa kreatifnya mereka dalam hal berdekorasi.
Lalu, bagaimanakah dengan hati saya? Tentu juga berbeda. Sewaktu berada di Indonesia, saat menjelang Natal, bersama dengan anggota Vocal Group, saya begitu sibuk mempersiapkan diri berlatih dalam rangka mengisi undangan di beberapa gereja dan perayaan-perayaan Natal lainnya, entah itu di perusahaan-perusahaan, kantor-kantor atau organisasi gereja lainnya. Tidak sedikit perayaan Natal yang akan dihadiri, entah itu berskala gereja, organisasi, kantor, perusahaan, hingga sekota Surabaya sendiri.
Semua perayaan Natal akan diisi pertama kali oleh kebaktian Natal dan baru dilanjutkan dengan ramah-tamah atau hiburan. Ini semua membuat saya merasakan kentalnya suasana Natal karena setiap datang ke perayaan Natal, maka akan saya dengar kidung-kidung Natal, khotbah-khotbah Natal, dan pesan-pesan Natal. Unsur-unsur inilah yang akan membawa semakin memaknai Natal itu sendiri.
Sewaktu pertama kali menghadiri undangan perayaan Natal di tempat dimana suami saya bekerja, saya sudah tidak dapat menahan keingintahuan saya tentang bagaimana suasana Natal di perayaan itu. Begitu excited! Ternyata ke-excited-an saya berakhir dengan kekecewaan, tidak seperti yang saya bayangkan. Bagaimana tidak? Acara pertama diisi dengan acara makan malam tanpa diawali dengan doa makan. Setelah itu diisi beberapa pidato singkat dari para panitia/Pimpinan dan dilanjutkan dengan permainan.
Terus terang saya pulang dengan hati hampa, tidak merasakan sekali apa itu Natal di dalam perayaan itu. Mereka hanya merayakan Natal seperti pesta makan malam atau pesta ulang tahun saja tanpa ingat siapa sosok yang sedang mereka rayakan, bahkan menyebut nama-Nya pun tidak. Saya pun tidak dapat menyimpan rasa kekecewaan, untunglah suami saya pun mengerti apa yang sedang saya rasakan. Betapa hati saya miris melihat sebuah pengalaman pertama saya itu. Namun begitu saya bersyukur, saya mendapatkan kesempatan melihat secara langsung sisi minus di balik sebuah perayaan Natal yang pertama kali saya hadiri di USA. Tidak akan pernah saya lupakan.
Ternyata maraknya dekorasi Natal di sana-sini tidaklah semarak yang saya rasakan pertama kali di USA. Namun begitu, saya tetap bersyukur memiliki keluarga sendiri yang secara sederhana merayakan Natal bersama dengan penuh makna Natal. Bila di Indonesia saya bernyanyi bersama rekan-rekan se-Vocal Group, maka di USA ini saya bernyanyi menyuarakan kasih antar sesama anggota keluarga.
Biarlah mereka tidak mengingat NAMA itu, tetapi NAMA itu akan tetap bersenandung pada setiap Natal keluarga di rumah saya. Doa pun tak henti-hentinya saya panjatkan untuk keluarga di Indonesia, dan tentunya untuk negara tercinta, Indonesia. Selamat Menyambut Natal 2008






serem amat, bu! nakutin yang ge...


