| Article Index |
|---|
| Ramadhan with Rumi |
| Ramadhan with Rumi |
| All Pages |
Seorang pemurah hati memberikan sekeping dirham [mata uang logam] kepada empat orang pelancong. Salah seorang dari mereka, yaitu orang Persia berkata: “Dengan uang ini, saya akan membeli angur (anggur).”
Orang kedua adalah orang Arab; ia berkata: “Tidak, saya akan membeli ‘inab (anggur), bukan angur.”
Orang ketiga adalah orang Turki; ia berkata: “Uang ini adalah milik saya. Saya tidak ingin membeli ‘inab, saya ingin membeli üzüm (anggur).”
Orang keempat adalah orang Yunani; ia berkata: “Hentikan percakapan ini. Saya ingin membeli istafil (anggur).”
Orang-orang itu mulai bertengkar satu sama lain, Karena mereka tidak mengetahui arti dari nama-nama itu.
Dalam ketololan mereka, mereka baku hantam satu sama lain. Mereka sama sekali berada dalam kedunguan dan ketidaktahuan. Jika ada seorang guru esoterik, yaitu seorang manusia terpuji dan menguasai banyak bahasa, Ia akan menenteramkan mereka. Dan lalu ia berkata: “Dengan dirham ini saya akan memberi semua kalian apa yang kalian inginkan.” (Mathnawi)
Sebuah catatan dari acara Ramadhan bersama Rumi
Topik: Perspektif universal: Islam Inklusif – Esensi Agama*
Pembicara: Kautsar Azhari Noer
Kisah empat pelancong ini diungkapkan oleh Jalaluddin Rumi (1207-1273), salah seorang Sufi terbesar sepanjang masa, untuk menggambarkan bahwa banyak orang beragama berkelahi karena masing-masing hanya mengenal agamanya sendiri dan tidak mengenal agama-agama lain. Bagi Rumi, agama ibarat bahasa; suatu agama berbeda dengan agama lain. Sebagaimana maksud atau hakikat semua bahasa, maka esensi atau hakikat semua agama adalah sama. Masing-masing pelancong itu hanya mengetahui bahasa mereka sendiri; masing-masing tidak mengetahui bahasa-bahasa lain. Mereka bertengkar karena masing-masing menganggap apa yang ingin mereka beli itu berbeda. Para guru esoterik adalah ahli bahasa yang mengetahui semua bahasa, yang dapat membantu untuk mengetahui bahwa apa yang ingin mereka beli itu adalah sama, yaitu anggur. Ibarat bahasa-bahasa, agama-agama yang berbeda adalah nama-nama untuk mengungkapkan satu tujuan yang sama.
“Lampu-lampu berbeda, tetapi Cahaya adalah sama,” kata Rumi. Ketika menegaskan perbedaan, Rumi juga menegaskan kesatuan. Yang membuat perbedaan bukanlah tujuan yang ingin dicapai, tetapi adalah jalan-jalan yang mengarah kepada tujan itu. Setiap jalan berbeda karena ia dikondisikan dan disesuaikan dengan konteks budaya dan sejarah tertentu agama.
Simaklah perkataan Rumi berikut ini:
Ada tangga-tangga yang tak terlihat di Alam Semesta.
Semua tangga itu bisa mencapai puncak langit setapak demi setapak.
Ada tangga yang berbeda untuk setiap bangsa;
Dan ada langit yang berbeda untuk setiap jalan musafir.
Setiap orang tidak mengetahui keadaan orang lain (dalam) kerajaan luas
dan tanpa akhir atau tanpa permulaan. (Mathnawi)
Bagi Rumi, ada banyak jalan yang berbeda kepada Tuhan. Perbedaan ini terletak pada penampakan, bukan pada esensi, karena esensi semua agama, tujuan semua agama, adalah satu dan sama, yaitu Tuhan. Dapat pula dikatakan bahwa tujuan semua agama adalah: memiliki kesadaran konstan pada Tuhan, menyadari kehadiran Tuhan, membawa para pemeluknya untuk mendekatkan diri mereka kepada Tuhan. Tuhan yang satu dan sama disebut dengan banyak nama, didekati dengan banyak jalan, dan disembah dengan banyak cara.
Meskipun ada banyak jalan
Tujuannya adalah sama
Tidakkah engkau melihat itu?
Berapa banyak jalan untuk sampai ke Ka‘bah?
Jalan sebagian orang melintas melalui negeri Yunani;
Orang lain dari Damaskus;
Orang lain dari negeri Persia;
Orang lain dari China;
Dan orang lain dari India melalui jalan laut.
Jika engkau melihat jalan-jalan itu
Perbedaan kelihatannya sangat besar dan tidak terbatas.
Tetapi ketika engkau menengok tujuannya
Engkau melihat bahwa semua jalan itu bertemu di Ka‘bah. (Fīhī mā fīhī)
Ketidaksepakatan umat manusia disebabkan oleh nama-nama [yang berbeda]
Kedamaian terjadi ketika mereka mencapai realitas [yang satu dan sama] (yang
ditunjukkan oleh nama). (Mathnawi)
Ketika engkau hendak menyembah bentuk lahiriah
Itu tampak seperti dua bagi engkau.
Tetapi pada hakikatnya itu hanyalah satu...
Jika sepuluh lampu ada dalam satu tempat
Masing-masing berbeda dengan yang lain
Namun engkau tidak bisa membedakan sinar lampu yang satu dengan yang lain
Ketika engkau melihat dengan jelas cahaya
Dalam ranah Roh
Tidak ada pembagian, juga tidak ada yang individual. (Mathnawi)
Seperti engkau mengetahui, ketika cahaya matahari masuk ke dalam rumah-rumah
Ia menjadi bagai seribu cahaya
Tetapi ketika dinding-dinding semua rumah itu hancur roboh
Cahaya semua rumah itu menjadi satu.
Ketika rumah-rumah itu lenyap
Orang-orang mukmin kembali kepada satu person. (Mathnawi)








